Indah Dewi Pertiwi, Pencari Totalitas atau Sensasi?

15 May 2011

kenapa harus semahal ituh? sementara banyak musisi lain bisa populer cuma lewat youtube“. Adalah pertanyaan yang kini sangat umum saya sering diungkapkan banyak orang, pada media, temannya, bahkan pada saya. Berhubung saya adalah seorang consultant dibagian online media startegist.

Meskipun begitu,a da yang saya selalu kagumi dari para pekerja seni. Misalnya musisi, mereka mampu menyampaikan pesan -bahkan termasuk mengkritisi ex-pasangan duetnya- lewat lirik maupun media visual tanpa harus kehilangan cita rasa untuk dinikmati pemujanya.

Sejujurnya saya bukanlah insan yang paham betul apa itu musik, hanya hanya penikmat. Namun karena kenikmatan itu pula saya jadi mahfum kenapa musisi rela merogoh koceknya lebih dan lebih dalam dibanding pelantun lirik lainnya. Jawabannya sederhana “karena mereka ingin sensasi, sensasi yang dibangun lewat setiap totalitas imajinasi“.

Apresiasi Video di era 2.0

Yang namanya duit, besar kecilnya pasti mengundang tanda tanya, mengundang perdebatan. Haruskah sedemikian mahal? kok bisa bisanya yah? dan sebagainya.

Kalau sudah bicara duit yang dikucurkan tentu akan kembali pada berapa banyak return yang diperoleh. Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang music di era social media, yakni sebuah era dimana karya musik dan visualnya akan kehilangan kekuatan esensinya. Hampir semua akan dihitung dengan berapa banyak di manggung, seberapa sering muncul di acara musik pagi atau yang paling kontroversial ya “Berapa banyak RBT yang di download“. Itupun jika hitungannya benar.

Lagian siapa yang peduli dengan video di era 2.0 seperti sekarang. Kalau sudah begitu, bisa dibayangkan seberapa besar pertaruhan banyak biaya yang harus dikeruk Indah Dewi Pertiwi. Bayangkan hitung hitunggannya, disana ada kapal tanker, helikopter, video animasi yang saya tau banget pasti mahal puooolll, plus masih ada dancer yang kabarnya dilatih khusus, plus masih ada biaya tak resmi untuk lokasi syuting ditempat tempat eksotis.

Let’s talk the return

Bicara return, paradigmanya tentu return of investment. Mau tak mau opini populer ini akan menjadi tolak ukur seberapa cerdas IDP dimata publik. “Seberapa besar sih pemasukan yang dicapai setelah membuat video gila gilaan ituh?“, “Seberapa besar sih album terjual dan dalam tempo berapa lama“, plus soal popularitynya “seberapa besar animo publik terhadap sosok Indah dewi Pertiwi“.

Dari studi yang dilakukan, “sensasi” harga mahal pembuat video dan teknik pemasarannya lainnya diganjar dengan terjualnya 1 juta album dalam enam bulan pertama, sementara bagaimana popularitasnya?

indah dewi pertiwi research

indah dewi pertiwi research

saat dibandingkan dengan boy band smash

idp dan smash research

idp dan smash research

Dari hasil pencapaian saat ini jelas sudah bahwa idp adalah musisi yang rela terhipnotis nafsunya untuk totalitas. Tak perduli bagaimana kompetitornya ataupun pergerakan popularitasnya. Ada keringat, perhatian, ekspektasi, dan fokusnya untuk memuaskan keinginanya sebagai musisi untuk sekadar mencipta.

Belum mampu mengungguli smash plus biaya yang dikeluarkan diatas rata rata. Entah lah, apakah penjualan album sudah mengembalikan investasi atau belum.

Apakah menjadi seorang musisi perlu menjadi pragmatis yang menilai kesuksessannya harus diukur dari nilai investasi? siapa tahu.

Tapi jika itu IDP, berarti musisi tak hanya sekadar seni, tapi identitas.


TAGS Hipnotis Blogging Contest @Arhamharyadi hipnotis idp apresiasi music


-

Author

Follow Me